INDAH WARNA-WARNI DUNIAKU

" TEMPAT BERMAIN, BELAJAR DAN BERBAGI KEBAIKAN, BAGI ANAK-ANAK INDONESIA. "

Tampilkan postingan dengan label Cerita Bersambung. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita Bersambung. Tampilkan semua postingan

BAB. XII
PENEMUAN-PENEMUAN MENARIK


TAK lama kemudian lantai kamar itu sudah bersih dari tanah, pasir dan rumput liar. Ternyata lantai terdiri dari batu-batu pipih. Ukurannya semua sama besar, dan bentuknya persegi empat. Satu per satu batu diteliti dengan senter. Mereka mencari-cari, barangkali ada yang bisa diangkat.

“Mungkin kita akan menemukan sebuah batu besar dengan gelang besi terpasang dalam lekukan,” kata Julian. Tetapi dugaannya meleset. Semua batu sama saja wujudnya. Benar-benar mengecewakan!

Julian mencoba menyelipkan sekopnya ke celah-celah yang ada di antara masing-masing ubin batu itu. Ia hendak memeriksa, kalau-kalau ada yang bisa digerakkan. Tetapi ternyata tidak. Semuanya kelihatan terpasang di tanah yang padat. Sesudah bekerja keras selama kira-kira tiga jam, anak-anak berhenti untuk makan.Perut mereka lapar sekali. Mereka bersyukur karena banyak makanan tersedia. Sambil makan mereka membicarakan persoalan yang hendak mereka pecahkan.
Baca selengkapnya .....

BAB. XI
BERANGKAT KE PULAU KIRRIN


BERSAMA George, Julian pergi mencari kedua adiknya. Ternyata mereka menunggu dalam kebun. Dick dan Anne kelihatan bingung. Mereka gembira melihat Julian beserta George, lalu lari menyongsong.

Anne menggenggam tangan George erat-erat.

“Aku sedih mengingat pulaumu dijual, George,” katanya.

“Aku juga,” kata Dick menambahkan. “Memang dasar sedang sial!”

George tersenyum malu.
Baca selengkapnya .....

BAB. X
TAWARAN YANG MENGEJUTKAN


 
KEESOKAN harinya surat kabar penuh dengan berita-berita tentang kapal tua itu, yang terangkat dari dasar laut secara luar biasa. Para wartawan berhasil mengorek cerita dari Paman, tentang kapal yang karam dan tentang batang-batang emas yang hilang. Beberapa dari wartawan itu bahkan berhasil pergi ke Pulau Kirrin dan membuat foto-foto puri tua di sana.

George sangat marah karenanya.

“Itu puriku!” amuknya terhadap Bibi Fanny. “Dan Pulau Kirrin kepunyaanku. Ibu bilang, aku boleh memilikinya. Ibu sudah bilang dulu!”
Baca selengkapnya .....

BAB. IX
PETI HARTA


Begitu selesai sarapan, dengan segera anak-anak mengambil peti yang disembunyikan di bawah tempat tidur. Peti itu dibawa ke gudang tempat menyimpan alat-alat di kebun. Mereka sudah kepingin sekali membukanya. Dalam hati, mereka semua merasa yakin bahwa di dalamnya tersimpan harta. Entah apa, tetapi pokoknya harta!

Julian mencari-cari alat yang bisa dipakai. Ia menemukan sebuah pahat. Menurut perasaannya alat itu cocok sekali dipakai untuk membuka peti secara paksa. Ia langsung mencobanya, tetapi pahat tergelincir dan mengenai jari-jari tangannya. Dicobanya kemudian berbagai alat lain. Tetapi peti itu tetap saja tak bisa terbuka. Kesal anak-anak dibuatnya.
Baca selengkapnya .....

BAB. VIII
MEMERIKSA KAPAL TUA


KEESOKAN harinya Julian bangun paling cepat. Ia terjaga ketika matahari muncul di kaki langit sebelah timur. Langit berwarna keemasan kena sinar matahari pagi. Sejenak Julian masih berbaring sambil menatap langit-langit kamar. Tetapi sekonyong-konyong ia teringat kembali pada kejadian-kejadian yang dialami kemarin. Ia cepat-cepat duduk di tempat tidur, lalu berbisik senyaring mungkin,

“Dick, bangun! Kita akan mendatangi bangkai kapal yang terangkat dari dasar laut. Ayo. Bangunlah.”

Dick bangun dan nyengir memandang Julian. Ia merasa gembira, sebab sebentar lagi akan bertualang. Ia meloncat dari tempat tidur, lalu lari menyelinap ke kamar George dan Anne. Pintu dibukanya dengan hati-hati. Dilihatnya kedua anak perempuan itu masih tidur. Anne berbaring meringkuk dalam selimut.
Baca selengkapnya .....

BAB. VII
KEMBALI KE PONDOK KIRRIN


KEEMPAT anak itu sangat tercengang dan tertarik, sehingga lebih dari semenit mereka tak bisa berkata apa-apa lagi. Mereka hanya melotot memandang bangkai kapal tua itu. Pikiran mereka penuh dengan angan-angan, membayangkan segala macam yang mungkin akan ditemukan di daLamnya. Kemudian Julian memegang lengan George erat-erat.

“Wah, hebat ya?” katanya. “Benar-benar luar biasa!”

George masih membisu. Matanya masih menatap bangkai kapal, sementara dalam pikirannya terbayang bermacam-macam hal. Kemudian ia berpaling ke Julian.
Baca selengkapnya .....

BAB. VI
AKIBAT ANGIN RIBUT


KEEMPAT anak itu menatap ke laut. Selama itu mereka begitu aayik melihat-lihat puri tua yang menarik itu sehingga tak ada yang sempat memperhatikan perubahan cuaca.

Sekali lagi terdengar bunyi guruh bergulung-gulung. Seolah-olah di atas langit ada seekor anjing besar yang sedang menggeram. Tim membalas, kedengarannya seperti guruh berukuran kecil.

“Ya ampun, kita terjebak,” ujar George dengan agak ngeri. “Kita takkan sempat kembali ke pantai. Itu sudah pasti angin bertiup sangat kencang. Kalian pernah melihat perubahan di langit seperti itu?”

Sewaktu mereka berangkat, langit masih berwarna biru cerah. Tetapi sekarang sudah kelabu gelap. Awan tebal yang menutupi, sangat rendah nampaknya. Awan-awan itu seakan lari berkejar-kejaran. Angin yang meniup menimbulkan suara melolong-lolong, sehingga Anne merasa ketakutan mendegarnya.
Baca selengkapnya .....

BAB. V
KE PULAU



KEESOKAN harinya Bibi mengajak pergi piknik. Mereka berangkat ke sebuah teluk kecil yang letaknya tak seberapa jauh, di mana mereka bisa berenang dan berperahu sepuas hati. Piknik itu menyenangkan. Tetapi dalam hati mereka, Julian dan kedua adiknya lebih suka apabila bisa ke pulau kepunyaan George. Mereka sangat kepingin ke sana.

George sebetulnya tak mau ikut. Bukan karena tidak suka piknik, melainkan karena Tim tidak bisa dibawa serta. Tetapi ibunya menyuruh ikut, dan George terpaksa tak bisa bermain-main sehari dengan Tim.

“Sial!” kata Julian pada George. Ia bisa menebak, kenapa saudara sepupunya itu bermuka muram. “Aku tak mengerti, kenapa tak kauceritakan saja tentang Tim kepada ibumu. Aku yakin dia tidak keberatan, jika Tim dipelihara orang lain untukmu. Aku tahu, kalau ibuku pasti takkan keberatan.”

Baca selengkapnya .....

BAB. IV
SUATU SORE YANG MENGASYIKKAN


SEPAGIAN mereka asyik mandi-mandi di laut. Julian dan Dick terpaksa mengakui bahwa George kebih pandai berenang daripada mereka. Geraknya tangkas dan cepat sekali. Ia bahkan pandai berenang di bawah air. Tahan sekali ia menyelam.

“Pandai sekali kau berenang,” ujar Julian kargum. “Sayang Anne tak begitu bisa. Anne, kau harus sungguh-sungguh berlatih! Kalau tidak, kau takkan pernah bisa ikut berenang bersama kami sampai jauh ke tengah.”

Menjelang saat makan siang, perut mereka telah lapar sekali, Cepat-cepat mereka mendaki jalan ke atas bukit. Mudah-mudahan saja di rumah banyak makanan. Dan harapan mereka itu terkabul. Bibi Fanny sudah menduga bahwa mereka pasti akan sangat lapar. Karenanya disediakan makanan banyak-banyak. Masakan daging dingin dengan selada, kue buah prem, kemudian puding telur dan akhirnya keju. Anak-anak makan dengan lahap.
Baca selengkapnya .....

BAB. III
KISAH ANEH — DAN TEMAN BARU


KETIGA anak itu mnemandang George dengan tercengang. George membalas pandangan mereka. Ia diam saja.

Apa maksudmu?” kata Dick akhirnya. “Tak mungkin Pulau Kirrin itu kepunyaanmu. Kau cuma mau menyombong saja.”

“Aku tidak bohong,” jawab George. “Tanya saja pada ibuku. Kalau kau tak mau mempercayai kataku, aku tak mau bilang apa-apa lagi. Aku bukan pembohong. Menurut pendapatku orang yang suka berkata tidak benar itu pengecut. Dan aku bukan seorang pengecut.”

Julian teringat kata Bibi Fanny. Kata Bibi, George selalu berkata sebenarnya. Julian menggaruk-garuk kepala sambil memandang saudara sepupunya. Mana mungkin dia mengatakan sebenamya?
Baca selengkapnya .....

BAB. II
SEPUPU YANG ANEH


TERNYATA Bibi Fanny sudah menunggu-nunggu kedatangan mereka. Begitu melihat ada mobil berhenti di depan, dengan segera Ia berlari-lari ke luar. Begitu melihat Bibi Fanny, dengan segera anak-anak menyukainya.

“Selamat datang di Kirrin!” serunya dan jauh. “Halo, apa kabar! Senang sekali rasanya, kalian datang kemari. Wah, bukan main — anak-anak sudah besar semuanya.”

Sesudah bersalam-salaman, ketiga anak itu masuk ke dalam rumah. Mereka segera menyukai rumah itu. Terasa ketuaannya. Seakan-akan menyimpan rahasia. Perabotan di dalamnya juga tua, dan indah.
Baca selengkapnya .....

BAB. I
LIBURAN YANG TAK TERSANGKA

BAGAIMANA, Bu, sudah ada kabar tentang liburan kita?” tanya Julian pada suatu pagi. “Bisakah kita pergi lagi ke Polseath, seperti biasanya?”

“Kurasa tidak bisa,” jawab Ibu. “Semua penginapan di sana penuh kali ini.”

Ketiga anak yang sedang sarapan itu saling berpandangan. Mereka kecewa, karena sebenarnya kepingin sekali ke Polseath. Mereka menyukai rumah yang biasa mereka sewa dalam liburan. Pantai di Polseath sangat indah. Enak mandi-mandi di sana.

“Jangan sedih dong,” kata Ayah membujuk. “Kita pasti masih akan berhasil menemukan tempat berlibur yang sama baiknya. O ya, aku dan Ibu kali ini tidak bisa ikut dengan kalian. Ibu sudah bercerita mengenainya?”
Baca selengkapnya .....

Kenalkan Aku

Foto saya
________ Jurangombo, Magelang, Jawa Tengah, Indonesia
_______________________ Aku anak pertama dari tiga bersaudara, yang tiga-tiga-nya cewek semua. Adik2ku Sabrina Zalfaa Arisanti dan Kirana Almira Arisanti. _______________________ Saat ini aku masih sekolah di SD Jurangombo 4 Kota Magelang.

Jadi Temanku

Kategori